Lagi! Bunda Neno Dipersekusi, Ini Kronologi Kesaksiannya

Oleh: Neno Warisman

Saya dijemput sahabat-sahabat relawan (sekitar) jam 00.00 malam setiba di Bandara Soetta. Teman-teman mengerti betapa laparnya saya. Mereka mengajak saya makan di restoran padang jalan Juanda. Setelah makan, saya pulang.

Saya masih terus memikirkan persekusi ini. Luar biasa polisi. Gak bisa mengatasi tidak lebih dari 40-an saja orang dan remaja-remaja yang berteriak, naik pagar gerbang dan berjoget joget, bakar-bakar, lempar mineral ke kaca depan mobil Mercy milik dr. Diana Tabrani yang menjemput saya.

Padahal jumlah aparat beratus-ratus banyaknya dan dari beberapa satuan yang berbeda. Anehnya, ketika pun yang aksi di depan gerbang itu sudah capek dan pulang, saya tetap dikurung bahkan dengan police line (dijaga, tapi gak boleh diberi makanan) sampai jam 9 malam saat pesawat akhir pulang dan ternyata pesawat ditahan karena perintahnya adalah saya harus diterbangkan pulang ke Jakarta.

Terbukti dari boarding pass kepulangan yang diberikan, ternyata sudah disiapkan sejak kami datang. Artinya yang seharusnya rahasia nama penumpang dan seterusnya, tidak berjalan.

Bertahan di dalam mobil selama nyaris 7 jam hingga pukul 21.00-an malam. Begitu banyak yang terjadi.

Tekanan, ancaman tersamar, maupun pemaksaan-pemaksaan dan terselip juga permohonan serta pendekatan yang manusiawi dari sedikit di antara aparat yang memaksa saya untuk kembali ke bandara. Ditemani oleh sang pemilik mobil-yang rusak-oleh hujan batu yang dilemparkan oleh siapa entah (dari mana batu cukup besar besar itu di bandara?)

Dokter Diana Tabrani dan Pak Luqman, saya tetap memilih bertahan. Dua orang dari tim kerja sempat diseret ke Polres dan seorang lain-saya lihat sendiri-dikejar 10 orang dan dikeroyok. Saya hanya dengar seruan Allahu Akbar-nya berulang-ulang sampai punggungnya menempel di kaca mobil. Lalu dibawa.

Hingga terjadilah hal yang berikut lepas Pukul 9 malam dimana seharusnya pesawat terakhir diberangkatkan. Kabinda datang dengan kasar menggebrak mobil dan berteriak-teriak memaksa buka pintu dan menarik paksa satu per satu semua dari mobil, kecuali saya yang tetap bertahan dan minta pada para Polwan berpakaian bebas untuk tidak memperlakukan saya dengan buruk.

Polwan hanya memaksa saya keluar namun tidak kasar. Bahkan beberapa di antara mereka membawa roti dan ingin saya menerimanya. Tapi saya tolak karena bukan roti yang saya inginkan, melainkan kebenaran., keadilan, hukum yang tidak digunakan semena-mena.

Beberapa orang meminta saya keluar karena hujan batu yang membuat saya khawatir mobil ibu Dokter Diana Tabrani akan rusak berat.

Saya tidak suka kekerasan, saya tegas katakan dan tidak perlu paksa saya (katakan) beberapa kali pada mereka.

Lalu kami dikelabui. Dibawa oleh mobil yang katanya akan mengantar saya ke hotel, namun kenyataannya mereka bawa saya ke pesawat dan sekali lagi Kabinda melakukan kekerasan pada para lelaki dan bahkan seorang presidium diseret-seret paksa oleh lima orang melalui naik tangga sampai ke Garbarata.

Di atas Garbarata para yang memaksa dengan kasar sampai terseret-seret itu minta maaf pada Doktor Balda karena, kata mereka, kami hanya jalankan tugas. Doktor Balda memaafkan.

Di bawah, Saya masih berusaha hubungi teman-teman seperjalanan yang saya khawatir akan keberadaan mereka. Ketika Pak Kabinda bersikap kasar sekali lagi pada laki-laki di mobil, saya minta dengan tegas agar Pak Kabinda untuk berlaku sopan.

Saya shalat 2 rakaat di dalam mobil. Lalu setelah selesai, saya minta mereka semua yang ada di sana berkumpul membuat lingkaran dan saya pimpinkan doa.

Qulillahumma Malikal Mulki tu’til mulka man tasyaa’, Wa tanzi-ul mulka mimman tasyaa’. Wa tu’izzu man tasyaa’, wa tudzillu man tasyaa’u biyadikal khoir. Innaka ‘ala kulli syai-in qodiir.

Pak Kabinda yang menggebrak-gebrak mobil, berteriak, menarik dan mengatakan tidak sabar menghela kami seperti penjahat pun saya doakan. Semoga Allah menyelamatkan beliau yang telah sangat buruk memperlakukan kami.

Tiba di Jakarta pukul 12 malam, saya dijemput oleh sahabat-sahabat relawan yang membawakan lontong isi dan saya senang bisa makan dan minum setelah 7 jam di dalam mobil tanpa sesuatu pun.

Di perjalanan pulang, saya kembali mengingat rangkaian kejadian persekusi yang saya alami sambil mengingat kata-kata Dokter Diana Tabrani, “Kami Mbak Neno, orang Melayu. Dan orang Melayu itu amat sangat memuliakan tamu. Mbak Neno tamu saya, tamu kami semua. Saya malu di tanah Melayu terjadi hal seperti ini.”

Sungguh hati beliau sangat mulia seperti almarhum ayah beliau, Dokter Tabrani yang dikenang dan dihormati.

Terakhir saya tanya, bagaimanakah kerusakan mobil ini? Dokter Diana Tabrani dan suaminya Pak Luqman sepakat, mereka katakan itu bukan urusan yang besar. Allahu akbar!

Terakhir, saya masih membaca di WA Grup bahwa teman-teman seperjalanan dari Jakarta yang juga tersandera tadi, setelah saya akhirnya naik pesawat, termasuk di dalamnya Mas Sang Alang, pencipta lagu Ganti Presiden mengalami penyerangan dan pengejaran oleh preman-preman Flores dan Nias. Sampai saat saya tulis dini hari ini, saya masih mengkhawatirkan mereka. Semoga Mereka selamat.

Berikut ini videonya:

 

 

 

Sumber

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *