Lebih dari 200 Aktivis, Seniman dan Penulis Layangkan Surat Terbuka: Hentikan Pembataian di Suriah

Situasi News | Lebih dari 200 seniman, aktivis, penulis dan pemusik mengeluarkan sebuah surat terbuka yang meminta pemerintah dunia untuk “menghentikan pembantaian di Suriah.”

Penandatangan berasal dari seluruh dunia, termasuk banyak dari Negara aktor utama dalam konflik: Suriah, Rusia, AS dan Turki.

“Perserikatan Bangsa-Bangsa mengatakan telah kehabisan kata-kata tentang Suriah, tapi kami, yang bertandatangan di bawah ini, masih memiliki beberapa kata untuk pemerintah, anggota parlemen, pemilih dan pengambil keputusan di dunia,” kata pembuka surat tersebut, yang diterbitkan di New York Review of Books pada hari Selasa (27/02/2018).

Militer rezim Nushairiyah Suriah, yang mendapat dukungan dari pesawat tempur Rusia, saat ini sedang membombardir secara brutal pinggiran kota Gharsa di Damaskus yang terkepung .

PBB, bersama dengan diplomat AS, telah menyerukan segera mengakhiri operasi militer, yang oleh ketua PBB Antonio Guterres disebut “Neraka di bumi.”

Ghouta Timur adalah benteng oposisi terakhir di dekat Damaskus, ibukota Suriah. Pengepungan dan blockade telah berlangsung sejak 2013.

Presiden Rusia Vladimir Putin menyerukan gencatan senjata kemanusiaan di daerah kantong yang akan dimulai pada jam 9 pagi waktu setempat hari Selasa, meskipun para aktivis mengatakan kepada Al Jazeera bahwa gencatan senjata sudah dilanggar kurang dari dua jam setelah dimulai.

Turki juga melakukan serangan terhadap milisi PYD Afrin di sebelah utara Suriah, yang telah dibebaskan oleh pasukan Kurdi dari Islamic State (IS) selama perang global lima tahun.

Operasi tersebut telah menimbulkan ketegangan antara Turki dan AS. AS mempersenjatai dan mendukung pasukan PYD dalam perang melawan IS, sedangkan PYD afiliasi PKK, sebuah kelompok teror yang telah memerangi Turki puluhan tahun.

Angkatan udara rezim Syiah Suriah juga membombardir Idlib, sebuah provinsi barat laut yang merupakan pusat populasi besar sebagai benteng terakhir yang dipegang oleh faksi-faksi jihad Suriah.

Puluhan warga sipil tewas dalam serangan udara baru-baru ini, menurut kelompok pemantau.

“Hari ini, saat Idlib dan Afrin terbakar, hal yang tak terelakkan juga terjadi di Ghouta, kamp konsentrasi besar terbuka yang memasuki tahun kelima di bawah pengepungan. Apa yang akan terjadi selanjutnya dapat diprediksi,” surat terbuka tersebut menyatakan.

Para penulis meminta negara-negara anggota PBB untuk menegakkan “Tanggung Jawab untuk Melindungi” (Responsibility to Protect-R2P) di bawah the UN Office on Genocide Prevention.

R2P meminta para penandatangan untuk mengambil “tindakan diplomatik, kemanusiaan dan damai yang sesuai… untuk membantu melindungi populasi dari genosida, kejahatan perang, pembersihan etnis dan kejahatan terhadap kemanusiaan.”

Langkah tersebut didukung oleh semua negara anggota PBB pada tahun 2005.

“Penghancuran Suriah dapat dicegah, dan sekarang hanya bisa diakhiri oleh anggota badan yang terpilih dan ditunjuk jika memenuhi kewajiban merekadi bawah R2P,” kata surat tersebut. (JI)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *