“Neraka di Bumi” Ghouta Timur

Situasi News | Serangan yang terus berlanjut oleh pasukan rezim Syiah Suriah dan Rusia telah menciptakan “neraka di Bumi” bagi warga sipil yang terjebak di daerah pinggiran kota Damaskus yang diblokade rezim Assad, kepala PBB mengatakan pada hari Senin (26/2/2018), saat serangan udara dan operasi darat berlanjut meski gencatan senjata diberlakukan seharian.

Sementara itu, Presiden Rusia Vladimir Putin, pada hari Senin, memerintahkan “jeda kemanusiaan” dari pukul 09:00 sampai 2.00 waktu setempat pada hari Selasa (27/2/2018) untuk mengizinkan warga sipil meninggalkan Ghouta Timur, lansir Aljazeera.

Pemboman terhadap daerah yang dikuasai oposisi selama sepekan terakhir merupakan salah satu yang terberat selama perang tujuh tahun Suriah, yang menewaskan lebih dari 550 orang dalam delapan hari, menurut sebuah perhitungan yang dikumpulkan oleh the Syrian Observatory for Human Rights, sebuah lembaga monitor perang yang berbasis di Inggris.

Pemboman terhadap oposisi telah menyebabkan 36 kematian dan sejumlah korban luka di Damaskus dan daerah pedesaan sekitarnya dalam empat hari terakhir, Zaher Hajjo, seorang pejabat kesehatan pemerintah, mengatakan kepada kantor berita Reuters.

Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa Antonio Guterres menyerukan segera pelaksanaan resolusi Dewan Keamanan untuk gencatan senjata 30 hari di Suriah yang disepakati Sabtu (24/02/2018).

Berbicara di Dewan Hak Asasi Manusia PBB di Jenewa, Swiss, Guterres menggambarkan situasi di Ghouta Timur sebagai “neraka di Bumi.”

“Saya mengingatkan semua pihak tentang kewajiban mutlak mereka serta hukum kemanusiaan dan hak asasi manusia internasional untuk melindungi masyarakat sipil dan infrastruktur sipil setiap saat,” katanya.

“Upaya memerangi ‘oposisi’ juga tidak menggantikan kewajiban ini,” tambahnya.

Ucapan Guterres itu muncul saat para dokter di daerah kantong tersebut mengatakan rezim Syiah Nushairiyah meluncurkan serangan gas klorin di kota Al-Shifaniyah di Ghouta Timur.

Tim penyelamat Pertahanan Sipil Suriah, yang juga dikenal sebagai White Helmets, mengatakan pada hari Ahad bahwa sedikitnya satu anak meninggal karena mati lemas.

Menurut pejabat kesehatan oposisi Suriah, korban menunjukkan gejala yang “konsisten dengan paparan gas klorin beracun.”

Menteri luar negeri Rusia membantah tuduhan bahwa gas tersebut digunakan.

“Sudah ada cerita palsu di media bahwa klorin kemarin digunakan di Ghouta Timur, dengan mengutip seorang individu tanpa nama, yang tinggal di Amerika Serikat,” kata Sergey Lavrov pada sebuah konferensi pers.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *