‘Partai Preman’ Kembali Bikin Kampanye Jadi Tidak Aman

Situasi News | Kontestasi demokrasi di Tanah Air kini jatuh ke titik nadir. Segala cara digunakan demi merebut kemenangan, termasuk tindakan-tindakan perusakan terhadap alat peraga kampanye partai pesaing. Parahnya lagi, yang berkelakuan adalah partai penguasa sendiri. Karenanya, bisa kita katakan, cara-cara serupa demikian merusak keteladanan.

Selama dua hari terakhir, sejumlah alat peraga kampanye Partai Demokrat dirusak sekelompok orang di Pekanbaru, Riau. Seorang pelaku yang tertangkap mengaku dibayar oleh seorang politikus PDI Perjuangan. Bersama 35 orang temannya, ia dibayar untuk melenyapkan bendera dan baliho parpol pendukung Prabowo Subianto-Sandiaga Uno itu.

Perusakan itu tentu ikut menyayat hati pimpinan partai tersebut, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), yang saat ini tengah bertandang ke Bumi Lancang Kuning. Untung saja Presiden RI ke-6 itu berbesar hati, sehingga tidak terpancing provokasi. Ia lebih memilih untuk mengalah dengan menyuruh para kader menurunkan sisa atribut di jalanan.

Kelakuan yang melanggar aturan seperti ini bukan kali pertama terjadi. Beberapa waktu lalu, saat Komisi Pemilihan Umum (KPU) menggelar deklarasi kampanye damai, pendukung petahana ini juga melakukan provokasi terhadap SBY dan Ketua Umum PAN, Zulkifli Hasan. Akibatnya, keduanya terpaksa meninggalkan lokasi acara sebelum waktunya.

 

 

Sebagai rakyat, miris hati melihatnya. Hanya karena mendukung petahana, mereka sampai hati memperlakukan mantan pemimpin seperti ini. Disoraki lalu diprovokasi dengan beramai-ramai mendekati kendaraannya saat karnaval berlangsung.

Bagaimanapun, SBY pernah berjasa bagi bangsa dan rakyatnya. Di zamannya, ekonomi membaik, kesejahteraan meningkat, Indonesia dipandang oleh negara-negara tetangga. Namun kini, orang yang berjasa itu diperlakukan sedemikian rupa.

Kejadian yang sudah berulang ini seakan menunjukkan jati diri partai penguasa yang yang belum dewasa, tidak memahami arti demokrasi dalam berkontestasi. Partai yang para kadernya juga masih berjiwa kerdil, suka merendahkan orang yang memiliki perbedaan, meski itu adalah mantan pemimpin sekalipun. Orang yang dulu pernah berjasa besar bagi negeri ini.

Jika di masa lalu, partai besutan Megawati Soekarnoputri ini banyak diisi oleh para preman jalanan dan para pengangguran, orang-orang yang tidak mau tunduk kepada pemerintahan Orde Baru, rupanya sekarang masih belum berubah. Meski telah berkuasa, sebagian mereka tetap saja berkelakuan bar-bar. Tidak mau mengindahkan aturan dan berlaku semena-mena.

Beginilah jika ‘partai preman’ diberi kekuasaan, mereka akan dengan enteng melanggar aturan demi meraih kemenangan. Ini yang membuat kampanye ke depan, akan menjadi tidak aman.

 

Oleh: Patrick Wilson

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *