Persekusi Emak-Emak, Rezim Akan Menuai Badai Politik

Oleh: Abu Nawas Barnabas

Salah satu pengulangan kedunguan rezim, adalah menggunakan alat kekuasaan untuk membendung aspirasi politik umat. Rezim mengira, bendungan kekuasaan mampu menahan air bah aspirasi politik umat yang membuncah akibat kezaliman yang terus dipertontonkan, keliru !

Apa yang dialami Bunda Neno Warisman di Pekan Baru, itu bukan memupus aspirasi. Justru, itu menggelorakan semangat aspirasi perlawanan pada rezim -yang jika agenda terjadi efeknya hanya lokal di Pekanbaru- pasca persekusi, agenda ganti rezim justru menjadi agenda yang melegenda dan menasional.

Saat ini, yang tunduk dan ada dibawah kendali rezim hanya alat negara yang telah diselewengkan menjadi alat kekuasan. Tetapi perlu dicatat, aparat yang telah dihinakan menjadi alat kuasa itu tidak akan mampu mencegah atau menghalangi gelora dan aspirasi umat, dikarenakan :

Pertama, alat kekuasaan adalah alat fisik bukan alat pemikiran dan ideologi yang mampu menangkap dan memenjara aspirasi dan kehendak umat. Alat kekuasan bisa menahan fisik, tetapi tidak akan mampu membendung kehendak, pemikiran dan aspirasi umat.

Kedua, jumlah alat kekuasaan itu sedikit, tak akan mampu menahan apalagi membelenggu fisik ratusan juta umat yang menghendaki perubahan. Yang bisa dilakukan hanya test Case, dan keadaan ini justru menjadi minyak yang membumbungkan bara api perubahan.

Ketiga, diinternal alat negara masih waras dan tidak mau menjadi alat kekuasaan. Tindakan persekusi terhadap umat, menyebabkan aparat yang lurus yang lahir dan dibesarkan dari rahim umat akan marah kepada struktur lembaga. Meski tidak terbuka, ini akan menjadi bara api dalam sekam.

Keempat, modus operandi yang berulang, menunjukan persekusi ini bukan insiden tetapi satu tindakan yang terencana, terstruktur sistematis dan masif. Keadaan ini, justru akan memantik perlawanan lebih serius, sungguh-sungguh dan dengan kekuatan penuh.

Ini akan menjadi badai politik, tsunami politik yang akan memporak-porandakan semua makar dan rencana jahat rezim. Keadaan ini akan semakin mematangkan benih-benih aspirasi perubahan, semakin bergelora dan membahana.

Ikhtiar rezim yang meminjam jubah dan sorban kesalehan untuk menutupi kebusukan, menjadi tidak berarti. Semua ikhtiar dan usaha akan sia-sia. Logistik yang dipersiapkan, hanya akan habis digerogoti para pendukung yang sebenarnya di kalangan elit tidak terlalu peduli pada rezim. Mereka hanya orang lapar yang mencari gizi tambahan melalui proses pemilihan.

Demikianlah, siapa menebar angin pasti menebar badai. Siapa yang mencoba memantik kemarahan, akan menuai penyesalan. Tindakan persekusi pada emak-emak, hanya mempertegas bahwa rezim memang sedang dalam kondisi menuju kejatuhannya.

Sekali lagi, rezim tidak dapat berbuat apapun untuk mempertahankan kekuasaannya, baik dengan tipuan rayuan jubah dan sorban ulama atau melalui tindakan Represifme menggunakan alat kelengkapan negara.

Percayalah, rezim represif anti Islam ini sedang menuju kejatuhannya. Siapkan diri untuk takjiyah, dan mengirim jasad rezim ke lobang sejarah peradaban paling kelam.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *