RI Defisit Neraca Perdagangan Terparah, Rizal Ramli Desak Jokowi Copot Enggartiasto

Situasi News | Defisit neraca perdagangan bulan Juli 2018 merupakan yang terparah dalam 5 tahun terakhir, atau sejak Juli 2013. Sepanjang tahun ini (hingga bulan Juli 2018), defisit neraca perdagangan sudah mencapai US$3,1 miliar.

Kesimpulan itu merupakan hasil tim riset CNBC Indonesia (15/8/2018). Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), nilai ekspor dan impor pada Juli 2018, ekspor Indonesia tembus US$ 16,24 miliar atau tumbuh 19,33% secara tahunan (year-on-year/YoY). Sementara impor naik 31,56% YoY menjadi US$18,27 miliar. Sehingga defisit neraca perdagangan bulan Juli mencapai US$2,03 miliar.

Ekonom senior Rizal Ramli bereaksi keras terkait defisit neraca perdagangan Juli 2018. Bahkan Rizal Ramli meminta Presiden Joko Widodo untuk mencopot Mendag Enggartiasto Lukito.

“Wong Mentri Perdagangan doyan banget impor, operasi sedot rente, Kelebihan impor garam 1,5 juta ton, gula 2 juta ton, beras, bawang putih dll. Petani sebel. Mas Jokowi @jokowi bertindak dong. Tolong ngomong sama Bang Surya untuk ganti Enggar,” tulis Rizal Ramli di akun Twitter @RamliRizal.

Ekonom senior Faisal Basri turut mengomentari sikap “doyan impor” Mendag Enggartiasto. Faisal Basri menyoroti impor beras sepanjang 2018. “Baru 6 bulan, impor beras sudah 1,1 juta ton. Izin impor yang sudah dikeluarkan Kemendag untuk tahun ini 2 juta ton. Bulog mengaku baru impor 1/2 juta ton di era Budi Waseso. Sisanya siapa yang impor?” tanya Faisal Basri di akun @FaisalBasri.

Sebelumnya, Direktur Jenderal Perdagangan Luar Negeri Kementerian Perdagangan Oke Nurwan mengungkapkan, total persetujuan impor beras periode 2018 kepada Perum Bulog (Persero) hingga saat ini mencapai 2 juta ton.

Di sisi lain, penolakan terhadap impor beras samakin menguat. Ketua Umum Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA) Winarno Tohir menolak rencana pemerintah untuk menambah volume impor beras sebesar 1 juta ton. Menurut Winarno, dengan impor tersebut akan mematahkan semangat petani yang sedang menikmati harga gabah kering panen yang lumayan yakni Rp4.500—Rp5.000 per kg.

Senada dengan Winarno, Ketua Umum Persatuan Pengusaha Penggilingan Padi dan Beras Indonesia (Perpadi) Sutarto Alimoeso menyebutkan, impor beras tambahan belum dibutuhkan. Pasalnya, pada masa panen kedua tahun ini (Agustus-September), pasokan beras dari petani akan mencapai 16 juta ton atau 40% dari target tahun ini sebesar 40 juta ton. (it)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *