Saya Menyebutnya “Pasukan Koalisi Sabar”

Situasi News | Dalam alqur’an, banyak sekali ayat-ayat yang menganjurkan untuk mengalah demi kebaikan dan larangan untuk berselisih atau berikhtilaf yang dapat berakibat pada perpecahan atau iftiraq. Allah SWT juga sudah mengingatkan hamba-hambaNya supaya tidak terjerumus ke jurang perpecahan dan juga memberikan ancaman untuk mereka yang melakukan hal tersebut. Beberapa diantara nash Alqur’an yang menunjukkan hal tersebut antara lain:

“Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah, orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari padanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk.” (Ali Imran : 103).

Saat mencermati perpolitikan Indonesia, ada hal menarik yang mengusik akal dan hati saya, yaitu pada Satu Partai Politik Indonesia yang massanya berbasis Islam. Partai tersebut dalam sepak terjangnya ternyata selalu mengalah demi kebaikan, selalu mendahulukan kepentingan umat dibanding kepentingan mereka sendiri, padahal kalau mau memperturut hawa nafsunya mereka bisa saja acuh terhadap aspirasi Umat.

Contohnya saat Pemilihan Gubernur DKI Jakarta 2017 kemarin, mereka mengalah dan merelakan posisinya digantikan oleh seorang yang bukan kader dari partai mereka, lalu saat Pemilihan Gubernur Jawa Barat 2018, lagi-lagi mereka mengalah karena aspirasi umat, yang awalnya mereka sudah mewacanakan berpasangan dengan seorang Artis yang juga menjabat sebagai petahana Wakil Gubernur Jawa Barat. Akhirnya berpindah haluan berpasangan dengan Mantan Jenderal dikarenakan mendengarkan aspirasi ulama, agar suara umat yang menginginkan ganti presiden 2019 tidak terpecah.

Lalu di Jawa Timur, alih-alih ingin membuat poros baru, namun aspirasi Ulama di Jawa Timur meminta agar tidak membuat poros baru, tapi mendukung koalisi keturunan Ulama disana, walaupun harus siap menerima gorengan media karena mereka harus berkoalisi dengan Banteng.

Dan yang terakhir jelang Pilpres 2019 lagi-lagi kemungkinan mereka harus mengalah. Awal-awal sudah ada kesepakatan dengan koalisi bahwa Cawapresnya adalah kader dari mereka, tapi kesini-sini sepertinya kesetiaan mereka harus bertepuk sebelah tangan. Kasihan ya…, Oleh sebab itu saya menyebut mereka sebagai “Pasukan Koalisi Sabar”.

 

Rizky Priyatna

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *