Ciptakan Ruang Aman dan Bebas dari Kekerasan Untuk Semua

Bagikan di akun sosial media anda

Oleh: Sekretaris DPC PA GMNI Jakarta Selatan, Melda Imnauela

Hari Perempuan Sedunia atau International Womens Day diperingati setiap tahunnya tanggal 8 Maret 2021. Jika menelisik kembali tentang sejarah perempuan sedunia bermula dari aksi unjuk rasa kaum perempuan pada 8 Maret 1909 di New York.

Dimana hari perempuan sedunia dirintis awal mulanya oleh kaum sosialis di Amerika Serikat pada tanggak 8 Maret 1857 terjadi protes dari kaum buruh perempuan yang bekerja di pabrik tekstil di New York. Tindakan semena-mena dan upah rendah menjadi alasan aksi tersebut.

Kemudian 50 tahun berselang tepatnya 8 Maret 1907 terjadi aksi demonstrasi yang melibatkan lebih dari 15.000,- perempuan buruh pabrik tekstil di New York.

Perjalanan yang panjang Hari Perempuan Sedunia atau International Womens Day (IWD) dapat membuahkan hasil perjuangannya hingga pada tahun 1975 Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). mulai secara rutin merayakan International Womens Day setiap tanggal 8 Maret. Tahun 1996, PBB menggelar yema tahunan pertama “Celebrating The Past, Plannig For The Future” dilanjutkan tahun 1997 dengan tema “Women at The Peace Table”, tahun 1998 dengan tema “Women and Human Rights” dan teman-teman lain di tiap tahunnya.

Sampai pada tahun 2001 Hari Perempuan Sedunia atau International Womens Day (IWD) sudah memiliki wadah dengan nama internationalwomensday.com dengan fokus untuk merayakan dan menyuarakan ketidaksetaraan gender.

Hari Perempuan Sedunia atau International Womens Day (IWD) pada 8 Maret 2021 mengusung tema “Choose To Challenge” Hari global bahwa sejak tahun 1909 hingga saat ini menjadi perayaan prestasi, sosial, ekonomi, budaya dan politik perempuan. Sejalan dengan tema tahun ini “Choose To Challenge”, dimana dunia tertantang adalah dunia yang waspada dan dari tantangan yang dating silih berganti.

Apalagi pada tahun 2021 ini menjadi tahun yang penting karena Indonesia dan dunia sedang berusaha pulih dari dampak pandemi Covid 19. Pandemi Covid 19 memberikan beban lebih berat bagi perempuan. Sektor-sektor yang terpukul berat oleh Covid 19, yaitu sektor-sektor yang berhadapan langsung konsumen seperti kesehatan, pendidikan, pertokoan/mall, restoran, dan pariwisata sebagian besar diisi tenaga kerja perempuan.

Beban ganda menjadi meningkat semua termasuk dunia pendidikan, harus bekerja dari rumah. Tugas merawat anggota keluarga mulai dari anak-anak bahkan orang usia lanjut usia menjadi beban perempuan.

Dalam situasi pandemi virus Covid 19, kejadian kekerasan semakin meningkat merujuk pada data dari Komisi Nasional Anti Kekerasan Terhadap Perempuan (Komnas Perempuan) yang tercatat sepanjang 2020, terdapat 1.178 laporan kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak. Jumlah ini meningkat dibandingkan dengan pada 2019 yang tercatat 794 kasus dan 2018 sebanyak 837 kasus.

Situasi ini, menggambarkan kondisi perempuan di Indonesia masih mengalami kehidupan yang tidak aman. Rancangan Undang-Undang Penghapusan Kekerasan Seksual (RUU PKS) menjadi penting untuk segera disahkan dalam menciptakan ruang aman dan bebas dari kekerasan untuk semua.

Kekerasan Seksual tidak hanya perempuan yang menjadi korban tapi juga lelaki. Sehingga RUU PKS dinantikan publik untuk melindungi korban kekersaan seksual. RUU PKS merupakan wujud nyata Negara hadir melindungi Negara dari kejahatan seksual.

Menyoal ketimpangan gender adalah masalah global yang membutuhkan pendekatan multisektoral. Bahwasannya perempuan tidak hadir dalam angka yang sama dalam bidang ekonomi, sosial, budaya dan politik. Kepemimpinan perempuan menjadi penting dalam menempati posisi strategis dalam pengambilan kebijakan baik itu di ranah eksekutif, legislatif dan yudikatif untuk menyuarakan aspirasi dan memperjuangkan hak-hak perempuan.

Hari Perempuan Sedunia atau International Womens Day (IWD) menjadi momentum tidak hanya sebatas perayaan seremonial. Tapi IWD sebagai pengingat bagi masyarakat jika sampai saat ini masih banyak isu-isu perempuan yang belum teratasi. Mulai dari kekerasan terhadap perempuan, pelecehan seksual, kesenjangan gaji antara laki-laki dan perempuan, pernikahan anak, sulitnya perempuan untuk menduduki posisi top level atau posisi startegis dalam pengambilan kebijakan, hingga masalah kesehatan reproduksi.

Disamping itu pula mengingatkan pula bahwa perempuan Indonesia tidak hanya terbatas dalam perjuangan nasional dan kesetaraan gender (sosial) namun ikut berperan aktif dalam roda pemerintahan demi menajukan dan mempertahankan NKRI hingga akhir massa dan menjunjung tinggi nilai-nilai luhur falsafah bangsa secara kolektif untuk menciptakan dunia yang damai, aman, inklusif dan bebas dari kekerasan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *