Kemajuan Perempuan Faktor Penting di Era Revolusi Industri 4.0 Memasuki Era Masyarakat 5.0 dalam Peradaban Bangsa yang Pancasilais

Bagikan di akun sosial media anda

Oleh : Melda Imanuel*

Tanggal 21 April merupakan hari yang bersejarah bagi perempuan di Indonesia, karena seorang pahlawan emansipasi wanita lahir di Jeparapa tanggal 21 April 1879. Pahlawan yang berjuang mewujudkan kesetaraan hak asasi bagi perempuan di Indonesia. Berkat usahanya, perempuan Indonesia juga mendapatkan pendidikan yang layak dan sama dengan kaum lelaki.

Mengenal Kartini dalam buku yang berjudul “Habis Gelap, Terbitlah Terang”.Buku itu terjemahan versi ringkas Armijn Pane atas “Door Duisternis To Licht”, yang merupakan kumpulan surat-surat Kartini yang dibukukan oleh JH Abendanon. Dan juga tulisan tentang Kartini karya Pramoedya Ananta Toer yang dibukukan berjudul “Panggil Aku Kartini Saja”.

Menelisik tentang Kartini yang tidak hanya ibu bagi anak-anak biologisnya, melainkan ibu bangsa yang penuh kasih kemanusiaan. Panggilan bagi Kartini memberikan contoh. “Ya, nama ku hanya Kartini. Sebab itu, panggil aku Kartini saja, tanpa gelar, tanpa sebutan” (Surat Kartini kepada Rossa Abendanon, 25 Mei 1899).

Kebangsawanan dan keningratannya Kartini memiliki pandangan yang luar biasa sekaligus melampui jamannya bahkan jaman generasi sesudahnya. Menurutnya kebangsawanan, “Bagi saya ada dua macam bangsawan, ialah bangsawan pikiran dan bangsawan budi. Tidaklah yang lebih gila dan bodoh menurut pendapat saya dari pada melihat orang yang membanggakan asal keturunannya” (Surat Kartini kepada Nona Zeehander, 18 Agustus 1899). Sedangkan keningratan, “Bagi saya hanya ada dua macam keningratan: keningratan pikiran dan keningratan budi.

Tidak ada yang lebih gila dan bodoh menurut persepsi saya dari pada melihat orang, yang membanggakan asal keturunannya. Apakah berarti sudah beramal soleh, orang yang bergelar Graaf atau Baron? Tidak dapat mengerti oleh pikiranku yang picik ini” (Surat Kartini kepada Stella, 18 Agustus 1899). Ia juga mengatakan terkait pemikirannya tentang etiket yang berurusan dengan kultur dan tradisi: “Peduli apa aku dengan segala tata cara itu. Segala peraturan, semua itu bikinan manusia, dan menyiksa diriku saja. Kau tidak dapat membayangkan bagaimana rumitnya etiket di dunia keningratan Jawa itu. Tapi sekarang mulai dengan aku, antara kami (Kartini, Roekmini, dan Kardinah) tidak ada tatacara lagi. Perasaan kami sendiri yang akan menentukan sampai batas-batas manacara liberal itu boleh dijalankan” (Surat Kartini kepada Stella, 18 Agustus 1899).

Presiden Soekarno memberikan penghargaan tinggi bagi perempuan sebagai warga Negara dan perannya dalam mendukung perjuangan pergerakan kemerdekaan maupun pasca Indonesia merdeka. Hal ini tertuang dalam buku Sarinah yang terbit 1947, dimana Presiden Soekarno mendorong keikutsertaan perempuan dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan.

PresidenSoekarno mengeluarkan Keppres Nomor 108 tahun 1964, Negara member gelar pahlawan pada Raden Ajeng Kartini akan perjuangannya untuk bangsa Indonesia umumnya dan perempuan pada khususnya. Dedikasinya yang mulia terhadap kemajuan bangsa Indonesia khususnya perempuan, yang membuat namanya selalu diingat yaitu Raden Ajeng Kartini atau yang biasa disebut RA Kartini selalu dikenang oleh perempuan Indonesia. Dari perjuangann yaitu, Kartini juga memiliki sifat yang patut diteladani untuk dapat menjadi Kartini masa kini.

Pemikiran dan sikap darinya dapat membuat seluruh perempuan di Indonesia terinspirasi dengan hal yang dilakukan olehnya dulu. Kartini menjadi sosok perempuan yang sangat menginspirasi perempuan Indonesia hingga saat ini. Jasanya dan pemikirannya yang dituliskannya melalui surat-surat Kartini selalu dikenang dan masih relavan hingga kini. Perjuangannya akan menyuarakan hak-hak perempuan bias dirasakan oleh perempuan Indonesia hingga masa kini mulai dari budaya pingitan, perkawinananak, pendidikan, poligami dan kesempatan akses yang sama dengan para laki-laki dalam mewujudkan keadilan social bagi seluruh rakyat Indonesia dan memajukan bangsa Indonesia.

Perjuangan Kartini akan terus dilanjutkan dengan lahirnya kartini-kartini masa kini yang dimiliki oleh Indonesia apalagi di era revolusi industry 4.0 memasuki era masyarakat 5.0 dimana perempuan memilik peranan penting dalam memajukan peradaban bangsa Indonesia yang Pancasilais. Dalam mewujudkan keadilan sosial di Indonesia membutuhkan perempuan yang maju, cerdas, beradpatasi dengan kemajuan jaman dan berkepribadian dalam kebudayaan bangsa Indonesia yang mengamalkan nilai-nilai Pancasila. Bahwasananya kemajuan perempuan Indonesia menjadi faktor penting dalam peradaban bangsa Indonesia yang melampui batas-batas identitas yang ada dalam bingkai persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia.

Apalagi di tengah serbuan ideologi trans nasional menjadi penting adalah membumikan kembali Pancasila dalam kehidupan sehari-hari dengan mengamalkan nilai-nilai Pancasila bagi generasi milenial masa kini. Kemajuan suatu Negara sangat bergantung pada sosok perempuan di Negara itu. Jika perempuan di suatu negaraitu baik dalam mendidik anak mereka, Negara itu akan biasa menjadi Negara maju. Mengutip kata-kata Kartini: “Tiada awan dilangit yang tetap selamanya. Tiad amungkin akan terus menerus terang cuaca. Sehabis malam gelap gulita lahir pagi membawak eindahan. Kehidupan manusia serupa dengan alam.”

Selamat memaknai hari Kartini bukan sekedar sebuah seremonial perayaan peringatan rutinitas tiap tahunnya namun terus berefleksi dengan terus menjaga semangat Kartini dalam menajdi kartini-kartini yang terus berjuang tidak hanya memperjuangan perjuangan nasional, kesetaraan gender melainkan turut serta menjaga NKRI yang tetap menjadi rumah Pancasila milik kita semua.

(Sekretaris DPC PA GMNI Jakarta Selatan)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *