Medan, situasinews.com | Ajang Rafting Fun Fest Medan 2025 menjadi salah satu pengalaman yang tak terlupakan bagi Trioni Narvatilova, atlet arung jeram asal Sumatera Utara yang juga alumni Universitas Sumatera Utara (USU). Usai menyabet lima medali di PON 2024, Trioni kembali turun ke lintasan, kali ini dengan sistem pertandingan yang berbeda, tim campuran antara laki-laki dan perempuan.
Sistem campuran itu rupanya tak sekadar menuntut kekuatan fisik, tetapi juga strategi dan penyesuaian ritme di antara dua sisi yang berbeda. “Di mana-mana nggak pernah sih kalau perempuan bisa lawan laki-laki, itu udah jelas. Secara power, tim laki-laki itu kan lebih kuat dibanding tenaga perempuan,” ungkap Trioni dengan nada jujur namun mantap. “Tapi kami selalu berusaha supaya nggak terlalu tertinggal jauh dari tim laki-laki. Kami juga punya target sendiri.”
Bagi Trioni, arung jeram bukan hanya tentang siapa yang paling kuat, tapi tentang bagaimana tetap solid dan kompak di tengah perbedaan. Dalam lomba campuran, dilema muncul antara harus menyesuaikan ritme dan tetap menjaga semangat tim sendiri. Namun, di sisi lain, sistem ini justru menjadi ruang untuk belajar dan membuktikan kemampuan. “Pertandingan kayak gini justru bikin semangat lebih berkobar. Rasanya tertantang banget, apalagi waktu di area perlombaan banyak penonton yang nyorakin tim kami (perempuan) supaya jangan mau kalah dari laki-laki. Disemangatin sama orang yang bahkan nggak dikenal, itu rasanya luar biasa, makin memacu diri,” ujarnya.
Namun di balik derasnya arus dan tekanan kompetisi, ada sisi lain yang membuat Trioni tetap jatuh cinta pada olahraga ini. Baginya, arung jeram bukan hanya soal adrenalin, tapi juga cara untuk menata diri. “Arung jeram itu tempat aku ngelola emosional. Di situ aku merasa makin dekat sama Tuhan, karena selama pertandingan kan kita ada di atas air, bukan tempat hidup sehari-hari, dan arusnya pun nggak bisa diprediksi. Tapi justru dari situ aku belajar tentang kendali, rasa syukur, dan pengembangan diri,” tuturnya.
Di antara riuh tepuk tangan penonton dan percikan air sungai yang tak pernah sama setiap kali, Trioni membuktikan bahwa kekuatan bukan hanya soal otot dan tenaga, tapi juga tentang keberanian menghadapi perbedaan, bahkan ketika arusnya begitu deras. (rel)






