Pendidik Inspiratif, Abul Qosim Abdul Karim Hawazin Al Qusyairi An Naisaburi (644)

Pendidikan45 Dilihat

Oleh Prof Dr Mardianto MPd

Tasawuf merupakan disiplin ilmu yang dipandang lebih berbicara persoalan-persoalan batin, kondisi-kondisi rohani dan hal-hal lain yang bersifat esoteris. Pengalaman-pengalamannya yang dibentuk melalui proses implementasi ajaran sufistik bersifat mistik dan hampir mengarah keadaan yang bersifat pribadi dan sulit dikomunikasikan kepada orang lain, sehingga selamanya hampir menjadi miliki pribadi. ( Abul Qosim Abdul Karim Hawazin Al Qusyairi An Naisaburi ,2007:c )

Anda boleh berbuat apa saja karena perbuatan itu adalah karya anda sendiri, dari pikiran, perasaan dan menggunakan raga secara independen. Independen dan individu itu hampir sama, dalam hal itu tergantung dari dalam bukan dari luar, jadi buatlah semaunya, selagi itu milik anda sendiri. Karena perbuatan itu diawali dari pikiran anda, dilakukan oleh kuasa anda, maka akhirnya akan berakibat pada anda sendiri.

Pada bagian lain, ketika semakin banyak individu satu berjumpa individu lain, disini akan terjadi interaksi, dalam hukum sosial maka individu akan berubah menjadi outvidual atau tergantung pada orang lain dalam hal ini komunitas dan lain sebagainya. Dari sinilah kita akan mengetahui apakah individu itu berperilaku umum atau tidak. Maka ukuran yang dijadikan boleh jadi berdasarkan pertimbangan individu, dua individu atau banyak orang.

BACA JUGA  Pendidik Inspiratif, Denny JA (669)

Individu yang melakukan kajian terhadap dirinya sendiri kadang mengalami autodidak yang berlebihan. Sehingga ia seakan menjadikan dirinya adalah bagian dari kebenaran, bahkan harus dirujuk oleh orang lain. Disini nilai kesufian dianggap merasuk pada pikiran, bahkan menjiwa dalam kepribadian. Abul Qosim melihat bahwa individu kadang justru memiliki pengalaman yang jauh dari apa yang ada dari lingkunganya. Menurut beliau ada tiga hal penting tentang hal ini yakni;

Pertama, Kenyataan ini dalam perkembangannya sering memunculkan tingkah laku aneh, eksentrik dan terkadang terkesan keluar dari batasan syar`i, yang oleh sementara kaum sufi justru dipahami sebagai bentuk pencapaian suatu maqam sufi tertentu. Kita harus hati-hati sebelum melangkah untuk menyerahkan diri dalam kegiatan kesufian, pelajari dulu baru setujui, dan akhirnya boleh kita ikuti.

BACA JUGA  Mendiktisaintek Prof Brian Yuliarto Saksikan Penandatanganan MoU UT dengan KSPSI

Kedua, Sedangkan ahli zhawahir yang berpegang teguh pada ajaran standar (golongan syariat) akan dianggap sebagai perbuatan bid`ah, tidak bermakna dan bahkan tidak jarang dikatakan sesat. Pandangan orang lain itu perlu, karena kita hidup tidak sendiri, maka jangan sekali-kali menyatakan diri mendapat keistimewaan dihadapan Tuhan, karena itu adalah ketakaburan yang tak termaafkan.

Ketiga, Perbuatan ini kebanyakan disebabkan oleh perbedaan pemahaman dasar-dasar Islam dan sudut pandangan kajian yang pada gilirannya juga melahirkan perbedaan pemakaian istilah dan ungkapan-ungkapan keilmuan dari masing-masing kelompok. Disinilah kita perlu pendidikan agama lewat kurikulum formal. Uji klinis sampai uji empiris tentang ajaran Islam telah memberi kontribusi nyata dan akurat, lebih baik belajar bertahap dari pada lompat dari murid langsung jadi mursid.

Kita setuju “Dengan kolaborasi kita bangun negeri, lewat pendidikan kita bersinergi”.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *