Oleh Prof Dr Mardianto MPd
Segala sesuatu yang berbeda pada zat masing-masing namun bersepakat pada satu perkara yang menjadi unsur pembentuknya, tidak lepas dari kemungkinan berikut: hal
yang menjadi titik kesepakatan itu merupakan konsekuensi niscaya (lazim) dari hal yang menjadi titik perbedaan; atau sebaliknya, hal yang menjadi titik perbedaan merupakan
konsekuensi niscaya dari hal yang menjadi titik kesepakatan; atau hal yang menjadi titik kesepakatan itu adalah aksiden (sifat tambahan) yang terpisah dari hal yang menjadi titik
perbedaan; atau sebaliknya, hal yang menjadi titik perbedaan itu adalah aksiden yang terpisah dari hal yang menjadi titik kesepakatan. (Ibnu Taimiyyah, 2026:3)
Logika itu ilmu berfikir, tetap dalam berfikir kita harus tahu mana yang boleh dilogikakan mana yang tidak boleh. Jadi jelas ontologi persoalan kapling pembahasan serta asal usulnya, epistimologi bagaimana cara memroses untuk mendapatkannya, serta aksiologi apa manfaat dan tujuan untuk dipelajari. Inilah logika dimana satu persoalan ketika dijawab selalu memunculkan pertanyaan berikutnya.
Dalam hidup ini memang tidak jarang terjadi masalah muncul seketika, tetapi kita tidak mesti sibuk atau terburu untuk menyelesaikannya. Terkait dengan hal ini ada empat cara pandang kita yakni sebagai berikut:
Pertama; ada masalah yang harus dipecahkan, tetapi cara memecahkannya ada yang membutuhkan pikiran kita, tetapi justru ada yang tidak yakni masalah itu kadang memang akan pecah sendiri.
Kedua, ada masalah yang memang ditimbulkan, tetapi siapa yang akan menyelesaikan. Semua kita tidak boleh ambil bagian untuk menyelesaikan, tetapi kadang kita harus adar ada masalah yang memang ditimbulkan agar sipembuat masalah menjadi pahlawan bagi orang lain untuk menyelesaikannya.
Ketiga, ada masalah begitu rumit dan besar persoalannya. Kita harus mengerti memang hal itu harus dihadapi agar semua berjalan dengan baik. Tetapi ada pula kerumitan dan besarnya persaoalan adalah karena kita salah mempersepsi, jadi mungkin masalahnya pada diri kita masing-masing untuk menanggapinya.
Keempat, ada masalah sengaja direkayasa untuk dihadirkan di hadapan kita. Kini tinggal bagaimana kita menyikapinya, apakah panik, stress, atau justru menjadi masalah baru. Tetapi kita harus cepat sadar bahwa memang hidup ini pasti ada masalah, kalau tidak mau mengahadapi masalah masalah kehidupan inipun telah selesai.
Di bagian akhir cerita masalah ini, ternyata benar kata Ibnu Taimiyyah bahwa bila kita sepakat dalam satu titik tentang kehidupan ini, maka semau akan tenang dan damai. Tetapi saudara kita justru sepakat bahwa ada titik tertentu kita harus sama menyepakati, tetapi apda titik yang lain sepakat bahwa kita harus berbeda. Jadi lazim atau tidak lazim satu keadaan tergantung bagaimana kita menyepakatinya.
Kita setuju “Dengan kolaborasi kita bangun negeri, lewat pendidikan kita bersinergi”.






