Pendidik Inspiratif, Laila Rohani (487)

Oleh Prof Dr Mardianto MPd

Pendidikan44 Dilihat

Konsep moderasi beragama itu sebuah pilihan sikap yang mengedepankan keseimbangan dalam hal praktik beragama. Sikap seimbang itu muncul dari diri untuk tidak cenderung berlebihan pada pandangan yang eksklusif sebagai pemeluk agama, sekaligus memberikan penghormatan terhadap praktik agama yang berbeda. (Rohani, 2023:9).

Kepala boleh sama, tetapi pikiran berbeda-beda, pikiran boleh jadi sama tetapi perasaan pasti berbeda pula, perasaan mungkin saja sama namun selera manusia selalu berbeda.

Dari orang yang berbeda, tetapi bisa hidup bersama dalam satu keluarga, dari rumah tangga yang berseberangan namun bisa hidup rukun sebagai warga desa, tidak ada batas dengan tembok antar desa tetapi daerah bisa saling berbagi. Itulah fenomena, mungkin dari hati paling dalam sampai hukum universal semua berlangsung sedemikian rupa.

Dalam diri kita sendiri sebagai individu kadang kala kita berbeda antara pikiran dan perasaan, termasuk hasrat dan keinginan, tetapi semua berjalan dengan baik-baik saja, ini semua karena kita belajar dan banyak pertimbangan.

Pertimbangan mana yang harus didahulukan, mana skala prioritas dan mana pula yang lebih banyak mudaratnya, inilah siklus pada diri kita sebagai individu.

Semakin kita banyak belajar, maka semakin matang dan dewasa pula kita dalam memberi pertimbangan baik dalam sikap, bertindak terlebih untuk bertanggungjawab pada hal tertentu. Memang utamakan kepentingan diri sendiri, tetapi hukum universal itu lebih utama.

Hukum sosial memberi pelajaran bagi kita ada hal-hal yang bersifat umum, semua orang harus mematuhinya, contoh berjalan di sebelah kiri, karena orang lain juga akan sebelah kiri, maka tidak bertabrakan.

Ini bukan untuk kepentingan umum saja tetapi menjadi pelindung agar semua individu dapat hidup selamat, rukun dan damai. Catatan kita semua kepentingan individu itu tumbuh dan berkembang sebagian di tengah-tengah masyarakat, mereka ingin mendapat tempat atau eksistensi.

Di sinilah komunitas sosial mana yang mampu menerima kepentingan individu secara proporsional akan banyak diminati, dan dijadikan tempat bertemu antar individu yang tumbuh dan berkembang.

Praktik individu dan kehidupan beragama di tengah-tengah masyarakat adalah contoh nyata tentang bagaimana perbedaan dan keharusan universal harus berjalan seiring.

Dalam hal ini menurut Dr Laila Rohani, bahwa konsep moderasi beragama itu sebuah pilihan sikap yang mengedepankan keseimbangan dalam hal praktik beragama.

Maka benarlah boleh saja pikiran kita berbeda, perasaan pun tak mesti sama, tetapi tujuannya adalah hak individu untuk menyelesaikan dengan tidak mengganggu orang lain. Antara pikiran dan tingkah laku, antara individu dan masyarakat harus berjalan seiring dan seimbang.

Untuk itu sekali lagi beliau menegaskan bahwa sikap seimbang itu muncul dari diri untuk tidak cenderung berlebihan pada pandangan yang eksklusif sebagai pemeluk agama, sekaligus memberikan penghormatan terhadap praktik agama yang berbeda.

Ada hal yang luar biasa kita lihat dari pernyataan singkat di atas, pandangan yang mewakili pikiran dan pertimbangan antara perasaan sampai tingkah laku, harus selalu diberi pertimbangan ada individu lain di luar sana.

Pada posisi yang hampir tidak berbeda itulah maka kata kuncinya “penghormatan” menjadi sangat berharga. Saya tidak mau menghormati, karena saya tidak gila hormat.

Memang orang beragama bukan persoalan hormat dan siap grak, tetapi memberi tempat ada yang berbeda antara diri kita dengan orang lain.

Jelaslah, tidak mesti menyamakan kepala yang penting pikiran dan perasaan sama dalam hal agama adalah alat untuk kebahagiaan masing-masing.

Kita setuju “Dengan kolaborasi kita bangun negeri, lewat pendidikan kita bersinergi”.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *