Oleh Prof Dr Mardianto MPd
Dalam konteks Pendidikan Agama Islam (PAI), perencanaan pembelajaran tidak sekadar merancang jadwal dan materi, melainkan juga mempertimbangkan nilai-nilai Islam, kompetensi spritual peserta didik, serta relevansi dengan konteks kehidupan nyata. Perencanaan yang matang akan menjamin terselenggaranya pembelajaran yang bermakna, terarah, dan efektif bagi seluruh pemangku kepentingan pendidikan (Wina Sanjaya, 2017).
Siapa sebenarnya yang memiliki kepentingan dalam kegiatan pendidikan, mungkin orang tua, guru, pemerintah, atau yayasan. kadang kita lupa yang paling utama justru adalah anak itu sendiri, kelupaan ini selalu muncul ketika kita merumuskan tujuan pendidikan, karakteristik dan lain sebagainya selalu abai atau tidak melibatkan anak atau peserta didik.
Para ahli pendidikan dalam diskusinya menjadikan masa depan adalah keadaan yang harus dideskripsikan senyata mungkin. Dimana pada saat itu karakteristik seseorang digambarkan itulah idealitasnya generasi yang didambakan, siap dalam berbagai keadaan bahkan memimpin atau mampu mengatasi segala persoalan. Semua itu anomali seakan hanya kepentingan para perumus pendidikan padahal mereka sendiri boleh jadi tidak hidup pada zaman yang dibayangkan.
Perencanaan pembelajaran memang selalu merujuk pada apa yang digambarkan tentang masa depan, tetapi masa depan itu sendiri penuh misteri, maka banyak interpretasi sesuai dengan siapa yang melakukan. Disini Wina Sanjaya mencoba memberi arah berbeda bahwa perencaan pendidikan menurut Islam harus didasarkan pada tiga hal yakni sebagai berikut:
Pertama, perencanaan yang bermakna. Makna dalam hal ini semua hal harus dilakukan sesuai dan mempertimbangkan nilai-nilai Islam, kompetensi spritual peserta didik, serta relevansi dengan konteks kehidupan nyata.
Kedua perencanaan harus terarah. Terarah dalam menyusun program serta kegiatan-kegiatan lanjutan yang didasarkan nilai-nilai Islam, kompetensi spritual peserta didik, serta relevansi dengan konteks kehidupan nyata.
Ketiga, perencanaan harus efektif. Pertimbangan efektif adalah dalam rangka menyelesaiakn setiap tahapan pencapaian nilai-nilai Islam, kompetensi spritual peserta didik, serta relevansi dengan konteks kehidupan nyata.
Jadi jelas bahwa merencanakan pendidikan tidak harus berteori terlalu jauh tentang masa depan, apalagi dengan sandaran yang temporal, tetapi apa yang terjadi hari ini dan landasan Islam yang hakiki. Ajaran Islam tidak berhenti pada menatap masa depan, tetapi menjadikan pertimbangan anak bahwa mereka akan hidup berbeda dengan kita sekarang. Maka rumusan tentang masa depan itu sederhana yakni bagaimana anak hidup beragama sesuai zamannya.
Kita setuju “Dengan kolaborasi kita bangun negeri, lewat pendidikan kita bersinergi”.






