Sherly Annavita: Saya Sedih & Gelisah, Mohon Dibaca Sampai Beres!

Situasi News | Beberapa waktu lalu saya berkesempatan ke Ternate dan ya seperti cerita selama ini, Ternate dengan Gunung Gamalama-nya dan gugusan Kepulauan Maluku pada umumnya memang masih sangat hijau hutannnya dan membiru lautnya ketika kita melewatinya / melihatnya dari udara.

Loading...

 

Gambar mungkin berisi: 1 orang, berdiri, gunung, langit, awan, luar ruangan dan alam

 

Namun bukan itu yang hendak saya ceritakan disini.

Saya hendak bercerita tentang kesedihan dan kegelisahan yang saya alami.

Saya sudah sering mendengar cerita tentang kekagetan mereka yang naik pesawat tapi mendapati mayoritas penumpangnya berasal dari suatu negara tertentu. Biasanya ketika kita terbang keluar pulau ke suatu daerah di luar Jawa, terutama ketika kita mengambil penerbangan malam/ dini hari agar sampai pagi ke daerah tujuan tersebut.

Saya merasakan kekagetan yang sama dengan mereka yang sudah mengalami sebelumnya.

Saya kaget karena penumpang pesawat yang saya tumpangi bisa dikatakan 70-80%-nya bukan orang Indonesia, melainkan berasal dari negara berpenduduk terbesar di dunia. Terlihat juga dari pasport-nya. Sangat berisik dari ketika berangkat sampai mendarat. Mengobrol dan bercanda dengan bahasa negaranya. Ketika berinteraksi dengan pramugari pun sangat jarang diantara mereka yang menjawab dengan bahasa Inggris. Dari beberapa gesture dan reaksi mereka, terlihat bahwa mereka belum terbiasa naik/ menggunanakan mode transportasi udara.

Selama dalam pesawat saya merenung, bertemu dengan rombongan besar mereka seperti ini di bandara atau dalam beberapa penerbangan saya sudah mengalami sebelumnya.

Namun yang membuat saya sedih dan gelisah adalah pesawat yang saya tumpangi ini bukan sedang berangkat ke Sulawesi atau daerah lainnya yang selama ini sudah lebih “familiar” dengan berita kedatangan mereka.

Pesawat yang saya tumpangi ini menuju ke Ternate & gugusan Kepulauan Maluku/ Timur yang agak jarang terdengar/ terekpose bahwa mereka sudah berbondong-bondong datangi.

 

Gambar mungkin berisi: 1 orang, berdiri, di panggung dan luar ruangan

 

Ketika awak pesawat memberitahukan kita akn sgr mendarat di Bandara Sultan Baabullah Ternate, menengoklah saya ke jendela pesawat. Terlihat hamparan pulau-pulau kecil yang masih hijau dan laut yang membiru. Hati bertambah sedih.

Menjelang turun ketika mereka semua berdiri berdesakan mengambil koper, saya memilih menjadi kelompok yang paling akhir turun. Ingin rasanya langsung memotret mereka sebelum turun semua, namun tentu itu tindakan yang beresiko.

Begitu kita keluar dari kawasan Bandara, kita melihat kelompok-kelompok tadi berkumpul dengan kendaraan-kendaraan jemputan/ sewaanya, barulah disitu saya mengabadikan fotonya.

Mulailah disitu naluri untuk bertanya dimulai kepada orang sekitar termasuk kepada Bapak yang mengantarkan saya ke acara.

Hampir sama keterangannya, bahwa itu pemandangan rutin. Bahwa mereka juga sebetulnya terganggu ketika sedang berangkat satu pesawat dengan mereka karena umumnya berisik terus mengobrol.

 

Keterangan foto tidak tersedia.

 

Saya juga mendapat informasi kalau kebanyakan mereka yang datang dan pergi itu adalah ke pertambangan nikel, emas dll di Halmahera. Mereka juga bercerita tentang perbedaan gaji yang sangat mencolok dengan jenis pekerjaan yang sama dan bagaimana perlakuan mereka terhadap pekerja pribumi.

Entahlah, cerita ini memang sudah sering saya dengar sebelumnya. Dari beberapa daerah lainnya. Namun kini saya merenungkannya secara lebih serius.

Penduduk kita yang ramah dan daerah-daerahnya yang masih alami seperti ini rasanya kurang pantas mengalami semua ini.

Akankah indahnya video dan foto diatas masih akan sama dan dinikmati oleh anak cucu kita bangsa Indonesia ke depan atau sudah lain cerita?

Sungguh menyesakan dada.

Saya sadar, mencari penghidupan yang lebih baik dimanapun tentu adalah hak semua bangsa tanpa terkecuali, namun bukankah warga negeri kita pun masih banyak yang membutuhkan dan kekurangan?

Sekarang entah sudah berapa banyak dan tersebar dimana saja mereka yang datang tadi, yang jelas kalau memang rutin dan dalam jumlah banyak seperti itu, bukan tidak mungkin kita akan jadi minoritas di negeri sendiri.

Adakah diantara teman-teman yang pernah mengalami pengalaman serupa ketika sedang berangkat ke suatu daerah? Yuk kita berdiskusi.

Terimakasih

Terimakasih kepada panitia yang sudah mengajak berkeliling ternate dan dokumentasinya.

 

Oleh:

Sherly Annavita

Tinggalkan Balasan